Sabtu, 15 Desember 2012

GITA SWARA FM:



[Enter Post Title Here]


Berkembang & Berkelanjutan dengan Dukungan Tim Fundraising
13th December 2012 by habidin979 under News Telah di baca 89 kali 

LOMBOK – “Agar radio bisa terus mengudara dan program siarannya bermutu serta bervarisasi, minimal kita harus mendapatkan dukungan pendanaan Rp.2,5 juta per bulan.”
Target pendanaan ini disampaikan oleh Marjadi Spd, Direktur Radio Komunitas (Rakom) Gita Swara. Radio yang berlokasi di desa Jenggala, Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Timur ini memang berusaha keras untuk terus eksis dan menyapa komunitas yang menjadi pendengarnya. Karenanya, pengelola rakom yang berdiri November 2002 berusaha untuk mencari peluang pendanaan, memperluas jaringan dan menjalin kemitraan dengan banyak pihak.
“Program siaran yang bermutu dan bervariasi memang menuntut adanya dukungan pendanaan dari semua pihak.”
Untuk mengalang dukungan pendanaan dan kemitraan dari berbagai pihak, pengelola Rakom Gita Swara membentuk divisi dana dan ILM yang ditugaskan secara khusus untuk mencari dan menciptakan peluang-peluang pendanaan. Divisi yang berperan sebagai tim fundraising ini terdiri dari 2 orang dan bertugas mengidentifikasi pihak-pihak yang bisa diajak sebagai mitra atau donatur untuk mendukung keberlanjutan radio.
“Kami dibekali trik-trik khusus bagaimana melakukan pendekatan kepada calon mitra atau donatur. Misalnya, bagaimana mendekati tokoh atau pimpinan di instansi atau perusanaan tertentu agar mereka mau menerima tawaran kerja sama atau kemitraan dari kami,” kata Suhaerudin, ketua divisi dana dan ILM Rakom Gita Swara.
Meski divisi dana dan ILM secara khusus ditugaskan untuk menggalang dukungan pendanaan, mereka tidak bekerja sendiri. Direktur, manajer dan divisi yang lain juga ikut menopang kerja atau program-program yang mereka tawarkan. Misalnya, direktur dan manajer Gita Swara yang memiliki jaringan luas serta dikenal banyak pihak berperan sebagai “pembuka pintu” untuk melakukan fundraising. Merekalah yang memberikan rekomendasi pihak-pihak mana saja yang bisa didekati dan dikirimkan tawaran kerja sama. Mereka juga yang melakukan pembicaraan awal untuk menjajaki kerja sama tersebut.
Divisi dana dan ILM kemudian menindaklanjutinya dengan mengirimkan proposal penawaran dan melakukan presentasi jika diperlukan. Divisi program juga membantu merancang program-program yang berpotensi untuk ditawarkan dan menjadi minat perusahaan atau instansi yang didekati. Beberapa skema dukungan dan kemitraan yang ditawarkan adalah memasang ILM (Iklan Layanan masyarakat), talk show, pembelian airtime, ucapan selamat atau duka cita, liputan live, sampai support event yang diselenggarakan oleh Rakom Gita Swara.
Untuk meningkatkan dan menggairahkan kerja tim dana dan ILM ini, pengelola rakom juga memberikan insentif bagi setiap kerja sama atau dukungan pendanaan yang mereka dapat. “Kami memberikan insentif 10% sampai 20% dari total dana yang berhasil mereka dapat dari mitra atau donatur,” kata Baron Araruna, manajer Rakom Gita Swara. Insentif ini tidak hanya diberikan kepada personil dari divisi dana dan ILM, tapi juga kepada staf divisi lainnya yang punya inisiatif, ide tau program yang bisa ditawarkan kepada calon mitra atau donatur.
“Kami juga memberikan tunjangan kesehatan jika mereka sakit atau tunjangan kesejahteraan yang diberikan menjelang hari araya atau akhir tahun. Meski jumlahnya tidak terlalu besar, namun itu cukup berarti bagi staf yang sebagian besar bekerja secara part time atau volunteer,” kata Baron.
Marjadi menambahkan, bahwa pembuatan tim fundraising ini sangat berdampak pada kegiatan penggalangan dana yang dilakukan rakom gita swara serta menjamin keberlangsungan oparasional radio dan program-program siaran dan non siara yang mereka jalankan. Dari segi kuantitas, misalnya, jumlah dukungan pendanaan yang didapat rakom ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Kalau tahun-tahun sebelumnya mereka hanya bisa mendapatkan dana Rp.2 juta per tahun, dalam dua tahun terakhir mereka sudah bisa menjaring dana Rp.4 juta per tahun. Jumlah mitra dan donatur radio juga terus bertambah dan bervariasi karena divisi dana dan ILM secara intens mencari dan memperluas kemitraan dengan instansi dan perusahaan baru, serta melakukan perawatan kepada mitra yang sudah ada dengan menjaga komunikasi dan relasi dengan mereka. Bahkan, tahun ini mereka bisa menjalin kerja sama jangka panjang dengan beberapa instansi pemerintah dan perusahaan.
“Yang lebih penting, kami bisa bersiaran secara konsisten dan berkelanjutan, memiliki perangkat siaran yang memadai, serta merancang program-program siaran yang bervariasi dan bermutu bagi komunitas. Karena, ujung dari fundraising yang kita lakukan adalah untuk menjamin keberlanjutan siaran dan melayani komunitas dengan memberikan informasi dan hiburan,” kata Marjadi. (Hamid Abidin, Sekolah Fundraising PIRAC)

GITA SWARA FM: GITA SWARA FM:



“Sekali di Udara, Setahun di darat…”
12th December 2012 by habidin979 under News Telah di baca 130 kali     
Rasidi, Ketua JRK Lombok
LOMBOK – Judul di atas merupakan plesetan dari semboyan sebuah radio nasional yang sangat populer di kalangan pengelola rakom (radio komunitas) anggota JRK (Jaringan Radio Komunitas) NTB. Motto ini menjadi potret kondisi sebagian rakom di NTB sekaligus pelecut semangat mereka untuk terus berjuang keras agar tetap eksis dan mengudara.
“Kami malu kalau dibilang masuk dalam katagori rakom yang sekali di udara setahun di darat. Kami terus berusaha untuk sekali di udara, tetap di udara..,” kata Drs Rasidi, ketua JRK NTB.
Radio komunitas mulai berkembang di NTB pada tahun 2001 yang diawali oleh berdirinya sebuah radio di Kabupaten Lombok Barat. Meski berdiri secara illegal, radio ini dianggap memiliki peran yang baik dalam menyuarakan aspirasi komunitas setempat. Perkembangan rakom di NTB mencapai puncaknya pada tahun 2005 – 2006 dan mulai mengalami penurunan pada tahun 2007.
“Saat itu pengelola rakom mulai gelisah karena sulitnya mendapatkan ijin, sementara balmon (balai monitoring) aktif merazia. Akibatnya, radio yang muncul bagai jamur di musim hujan menjadi musnah akibat panas di musim kemarau” ujar Rasidi.
Rasidi menjelaskan bahwa sampai saat ini di NTB terdapat lebih dari 55 radio komunintas dan 40 diantaranya merupakan anggota JRK NTB. Rakom tersebut umumnya tersebar di kabupaten Lombok dengan rata-rata 4 – 6 radio di masing-masing kabupaten. “Hanya di Pulau Sumbawa yang jumlah radio komunitasnya masih minim, “ katanya.
Sementara dari keseluruhan radio komunitas anggota JRK NTB, yang masih aktif bersiaran hanya 24 radio. Sebagian besar rakom berhenti siaran karena faktor teknis, seperti  peralatan rusak akibat listrik yang sering padam atau disambar petir. Kendala teknis ini menjadi tantangan terbesar bagi radio komunitas di NTB. Salah satu karakter atau kekhasan dari rakom NTB adalah bahasa yang digunakan dalam bersiaran yang umumnya menggunakan bahasa Sasak dan musik atau lagu-lagu yang diputar di radio sebagian besar merupakan musik Sasak.
Jika dilihat dari inisiatif pendiriannya, sebagian besar rakom di NTB diinisiasi oleh para hobiis atau orang yang memang hobi atau senang bersiaran di radio. Tak banyak radio yang pendiriannya diinisiasi oleh komunitas. Ada juga radio yang didirikan karena adanya proyek pemerintah atau donor tertentu, atau didirikan hanya untuk coba-coba atau ikut-ikutan saja. Misal, radio yang didirikan hanya karena desa tetangga mendirikan dan mengelola radio.
“Radio yang dikelola hobiis umumnya lebih banyak bertahan karena didanai dan diupayakan untuk terus hidup oleh pendirinya yang memang hobi dan mencintai radio “ jelas Rasidi.
Rasidi menambahkan, keberlanjutan Rakom NTB dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama,  keaktifan dari komunitasnya itu sendiri yang merasa memiliki rakom dan berusaha agar rakom tetap hidup. Sumber pendanaan rakom ini sebagian besar berasal dari komunitas, meski bentuk dukungan tidak dalam bentuk uang  tunai dan pemberiannya tidak rutin.
Kedua, keaktifan dari pengurus rakom yang selalu berusaha untuk memperluas jaringan dan menggalang dukungan dan pendanaan bagi keberlajutan rakomnya. Sumber pendanaan utama rakom ini berasal dari pengurus rakom,  baik dari kantongnya sendiri maupun dari keaktifan mereka dalam mencari sumber pendanaan. Mereka juga  getol mencari peluang dan dukungan dengan menawarkan ILM atau talkshow, kerja sama dengan pemerintah, LSM maupun perusahaan swasta, manawarkan talkshow, bekerja sama dengan perusahaan, dan sebagainya.
Rakom yang masih eksis umumnya dikelola oleh pengurus yang aktif berjejaring dengan banyak pihak sehingga dia tahu peluang-peluang yang ada dan memanfaatkannya. Missal, mereka aktif berhubungan dengan pemda setempat, aktif di berbagai forum, melakukan liputan, dll.
“Kalau pengurusnya tidak aktif dan ogah-ogahan, meski komunitasnya menuntut tetap bersiaran, radio tak akan terus eksis..”
Rasidi menjelaskan bahwa sebagian besar rakom di NTB bertahan dan berkelanjutan dengan strategi fundraising On Air atau kegiatan fundraising yang dikaitkan dengan kegiatan siaran. Misal, membuat  dan menayangkan ILM, menayangkan talkshow, siaran langsung, atau menawarkan waktu jadwal siaran untuk program tertentu, seperti sandiwara radio, dll. Strategi ini banyak dipilih karena relevan dengan kapasitas yang dimiliki oleh pengelola radio dan tidak membutuhkan SDM yang besar.
“Belum banyak yang mencari dana untuk operasional siaran melalui Off air, seperti membuat event atau mengelola usaha yang memang membutuhkan SDM yang banyak dan kapasitas khusus,” jelasnya.
Sementara kendala yang dihadapi dalam melakukan fundraising adalah kemampuan meyakinkan donator atau mitra, baik pada saat ketemu ataupun setelah mendapatkan dana. Pada saat menjajaki dukungan atau kerja sama mereka sudah kesulitan untuk meyakinkan calon mitra atau donatur bahwa mereka bisa menyiarkan iklan atau programnya sesuai dengan jumlah atau frekuensi yang dijanjikan. Hal ini disebabkan Karena radionya sering tidak bisa beroperasi karena perangkat rusak, tersambar petir atau mati lampu. Sementara tantangan yang dihadapi pasca kerja sama adalah menyampaikan laporan atau pertanggungjawaban program atau keuangan. Selain itu, Mereka tidak bisa memelihara hubungan dan melaporkan manfaat atau dampak dari program.
“fakta  di lapangan menunjukkan bahwa program itu bermanfaat besar bagi masyarakat, tapi mereka sendiri tidak bisa menyajikan laporannya atau menyampaikan manfaat yang didapat dari program,” jelas Rasidi. Selain itu, sulitnya mendapatkan ijin siaran juga berpengaruh terhadap kegiatan  siaran dan fundraising. “Mereka takut dan ragu-ragu untuk bekerja sama dalam jangka panjang khawatir di tengah jalan radionya ditutup. Gimana dengan kelanjutan kerja samanya kalau rakomnya ditutup atau dirazia”. (Hamid Abidin/ Sekolah Fundraising PIRAC)JRK Lombok, JRKI, PIrac, Raddio Komunitas, Rakom, Sekali di udara, Sekolah Fundraising Pirac

Warning: mkdir() [function.mkdir]: Permission denied in /home/pirac/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 12

Warning: file_get_contents() [function.file-get-contents]: Unable to find the wrapper "https" - did you forget to enable it when you configured PHP? in /home/pirac/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 17

Warning: file_get_contents(https://graph.facebook.com/comments/?ids=http://fundraisingmedia.info/blog/2012/12/12/sekali-di-udara-setahun-di-darat/) [function.file-get-contents]: failed to open stream: No such file or directory in /home/pirac/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 17

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/pirac/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 19

Warning: file_put_contents(/home/pirac/public_html/wp-content/fb-comment-cache/wp_268) [function.file-put-contents]: failed to open stream: No such file or directory in /home/pirac/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 34

GITA SWARA FM:



“Sekali di Udara, Setahun di darat…”
12th December 2012 by habidin979 under News Telah di baca 130 kali     
Rasidi, Ketua JRK Lombok
LOMBOK – Judul di atas merupakan plesetan dari semboyan sebuah radio nasional yang sangat populer di kalangan pengelola rakom (radio komunitas) anggota JRK (Jaringan Radio Komunitas) NTB. Motto ini menjadi potret kondisi sebagian rakom di NTB sekaligus pelecut semangat mereka untuk terus berjuang keras agar tetap eksis dan mengudara.
“Kami malu kalau dibilang masuk dalam katagori rakom yang sekali di udara setahun di darat. Kami terus berusaha untuk sekali di udara, tetap di udara..,” kata Drs Rasidi, ketua JRK NTB.
Radio komunitas mulai berkembang di NTB pada tahun 2001 yang diawali oleh berdirinya sebuah radio di Kabupaten Lombok Barat. Meski berdiri secara illegal, radio ini dianggap memiliki peran yang baik dalam menyuarakan aspirasi komunitas setempat. Perkembangan rakom di NTB mencapai puncaknya pada tahun 2005 – 2006 dan mulai mengalami penurunan pada tahun 2007.
“Saat itu pengelola rakom mulai gelisah karena sulitnya mendapatkan ijin, sementara balmon (balai monitoring) aktif merazia. Akibatnya, radio yang muncul bagai jamur di musim hujan menjadi musnah akibat panas di musim kemarau” ujar Rasidi.
Rasidi menjelaskan bahwa sampai saat ini di NTB terdapat lebih dari 55 radio komunintas dan 40 diantaranya merupakan anggota JRK NTB. Rakom tersebut umumnya tersebar di kabupaten Lombok dengan rata-rata 4 – 6 radio di masing-masing kabupaten. “Hanya di Pulau Sumbawa yang jumlah radio komunitasnya masih minim, “ katanya.
Sementara dari keseluruhan radio komunitas anggota JRK NTB, yang masih aktif bersiaran hanya 24 radio. Sebagian besar rakom berhenti siaran karena faktor teknis, seperti  peralatan rusak akibat listrik yang sering padam atau disambar petir. Kendala teknis ini menjadi tantangan terbesar bagi radio komunitas di NTB. Salah satu karakter atau kekhasan dari rakom NTB adalah bahasa yang digunakan dalam bersiaran yang umumnya menggunakan bahasa Sasak dan musik atau lagu-lagu yang diputar di radio sebagian besar merupakan musik Sasak.
Jika dilihat dari inisiatif pendiriannya, sebagian besar rakom di NTB diinisiasi oleh para hobiis atau orang yang memang hobi atau senang bersiaran di radio. Tak banyak radio yang pendiriannya diinisiasi oleh komunitas. Ada juga radio yang didirikan karena adanya proyek pemerintah atau donor tertentu, atau didirikan hanya untuk coba-coba atau ikut-ikutan saja. Misal, radio yang didirikan hanya karena desa tetangga mendirikan dan mengelola radio.
“Radio yang dikelola hobiis umumnya lebih banyak bertahan karena didanai dan diupayakan untuk terus hidup oleh pendirinya yang memang hobi dan mencintai radio “ jelas Rasidi.
Rasidi menambahkan, keberlanjutan Rakom NTB dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama,  keaktifan dari komunitasnya itu sendiri yang merasa memiliki rakom dan berusaha agar rakom tetap hidup. Sumber pendanaan rakom ini sebagian besar berasal dari komunitas, meski bentuk dukungan tidak dalam bentuk uang  tunai dan pemberiannya tidak rutin.
Kedua, keaktifan dari pengurus rakom yang selalu berusaha untuk memperluas jaringan dan menggalang dukungan dan pendanaan bagi keberlajutan rakomnya. Sumber pendanaan utama rakom ini berasal dari pengurus rakom,  baik dari kantongnya sendiri maupun dari keaktifan mereka dalam mencari sumber pendanaan. Mereka juga  getol mencari peluang dan dukungan dengan menawarkan ILM atau talkshow, kerja sama dengan pemerintah, LSM maupun perusahaan swasta, manawarkan talkshow, bekerja sama dengan perusahaan, dan sebagainya.
Rakom yang masih eksis umumnya dikelola oleh pengurus yang aktif berjejaring dengan banyak pihak sehingga dia tahu peluang-peluang yang ada dan memanfaatkannya. Missal, mereka aktif berhubungan dengan pemda setempat, aktif di berbagai forum, melakukan liputan, dll.
“Kalau pengurusnya tidak aktif dan ogah-ogahan, meski komunitasnya menuntut tetap bersiaran, radio tak akan terus eksis..”
Rasidi menjelaskan bahwa sebagian besar rakom di NTB bertahan dan berkelanjutan dengan strategi fundraising On Air atau kegiatan fundraising yang dikaitkan dengan kegiatan siaran. Misal, membuat  dan menayangkan ILM, menayangkan talkshow, siaran langsung, atau menawarkan waktu jadwal siaran untuk program tertentu, seperti sandiwara radio, dll. Strategi ini banyak dipilih karena relevan dengan kapasitas yang dimiliki oleh pengelola radio dan tidak membutuhkan SDM yang besar.
“Belum banyak yang mencari dana untuk operasional siaran melalui Off air, seperti membuat event atau mengelola usaha yang memang membutuhkan SDM yang banyak dan kapasitas khusus,” jelasnya.
Sementara kendala yang dihadapi dalam melakukan fundraising adalah kemampuan meyakinkan donator atau mitra, baik pada saat ketemu ataupun setelah mendapatkan dana. Pada saat menjajaki dukungan atau kerja sama mereka sudah kesulitan untuk meyakinkan calon mitra atau donatur bahwa mereka bisa menyiarkan iklan atau programnya sesuai dengan jumlah atau frekuensi yang dijanjikan. Hal ini disebabkan Karena radionya sering tidak bisa beroperasi karena perangkat rusak, tersambar petir atau mati lampu. Sementara tantangan yang dihadapi pasca kerja sama adalah menyampaikan laporan atau pertanggungjawaban program atau keuangan. Selain itu, Mereka tidak bisa memelihara hubungan dan melaporkan manfaat atau dampak dari program.
“fakta  di lapangan menunjukkan bahwa program itu bermanfaat besar bagi masyarakat, tapi mereka sendiri tidak bisa menyajikan laporannya atau menyampaikan manfaat yang didapat dari program,” jelas Rasidi. Selain itu, sulitnya mendapatkan ijin siaran juga berpengaruh terhadap kegiatan  siaran dan fundraising. “Mereka takut dan ragu-ragu untuk bekerja sama dalam jangka panjang khawatir di tengah jalan radionya ditutup. Gimana dengan kelanjutan kerja samanya kalau rakomnya ditutup atau dirazia”. (Hamid Abidin/ Sekolah Fundraising PIRAC)JRK Lombok, JRKI, PIrac, Raddio Komunitas, Rakom, Sekali di udara, Sekolah Fundraising Pirac Warning: mkdir() [function.mkdir]: Permission denied in /home/pirac/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 12

Warning: file_get_contents() [function.file-get-contents]: Unable to find the wrapper "https" - did you forget to enable it when you configured PHP? in /home/pirac/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 17

Warning: file_get_contents(https://graph.facebook.com/comments/?ids=http://fundraisingmedia.info/blog/2012/12/12/sekali-di-udara-setahun-di-darat/) [function.file-get-contents]: failed to open stream: No such file or directory in /home/pirac/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 17

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/pirac/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 19

Warning: file_put_contents(/home/pirac/public_html/wp-content/fb-comment-cache/wp_268) [function.file-put-contents]: failed to open stream: No such file or directory in /home/pirac/public_html/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 34

GITA SWARA FM:

GITA SWARA FM:


Bupati H.Djohan Sjamsu,SH, Ajak Masyarakat Kayangan Bersatu Padu Membangun KLU
http://suarakomunitas.net/content/users/14122012517.jpgKayangan,(SK),-- Menjadi Abdi Negara, banyak cara yang dilakukan untuk mendekatkan diri dengan masyarakat di wilayahnya, sekaligus sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat.Seperti yang dilakukan Bupati KLU H.Djohan Sjamsu,SH, yang melakukan Safari Jum’at keliling diwilayahnya dengan didampingi Kapolres Lombok Utara AKBP Ronny Azwawie SH.SIK.
Dalam kunjungan kerjanya yang dirangkaikan dengan Safari Jum’at sambil melaksanakan ibadah Sholat Jum’at di Mesjid Nurul Huda Dusun Sidutan Desa Kayangan Kecamatan Kayangan,Jum’at (14/12/2012) hari ini, Bupati KLU H.Djohan Sjamsu menyampaikan berbagai program penting yang menjadi unggulan pemerintah daerah yang segera di tuntaskan dalam masakepemimpinannya.

Di hadapan jama’ah Mesjid Nurul Huda Dusun Sidutan Desa Kayangan Kecamatan Kayangan KLU tersebut, Bupati mengatakan, angka kemiskinan 43,14 % di daerah ini merupakan warisan dari Kabupaten Induk Lombok Barat sebelum KLU terbentuk.
Dikatakan, saat ini telah membuat suatu program bagaimana kemiskinan ini bisa di tekan dengan berupaya tiap tahun bisa menurunkan 2,5 %. Berdasarkan kerja keras dari seluruh aparatur dan masyarakat di daerah ini, maka angka 2,5 % itu bisa ditingkatkan menjadi 4 % penurunannya.
KLU ini adalah merupakan daerah yang progressif, ini artinya paling tinggi prosentase tingkat kemiskinannya sehingga mengalahkan 9 Kabupaten/Kota lainnya di di NTB. Selain itu,kata Djohan, hasil evaluasi Pemda Provinsi tentang IPM KLU adalah yang paling rendah.
Tetapi, lanjutnya,berdasarkan evaluasi Pemda Provinsi NTB untuk dua tahun terakhir ini,IPM KLU malah yang paling tinggi di NTB.”Ini patut kita syukuri, artinya arah pemabngunan kita di daerah Tioq Tata Tunaq ini sudah benar,”terang Bupati.
“Itulah sebabnya, saya mengajak seluruh warga KLU, khususnya di Dusun Sidutan Desa Kayangan Kecamatan Kayangan ini untuk bersatu padu, menyatukan hati dan pikiran dalam rangka mendukung percepatan pembangunan di daerah ini menuju Kabupaten yang maju dan beradab,”ajak Bupati.
Selain itu, berdasarkan evaluasi Pemerintah Pusat yang setiap tahun dilakukannya, KLU bersama 57 daerah Kabupaten/Kota seluruh Indonesia yang pemekarannya bersamaan, maka pihak Pemerintah Pusat menempatkan KLU pada urutan ke 6 dari 57 Kabupaten/Kota dalam keberhasilan pembangunannya.
Sebagai Kepala Daerah yang pertama hasil pilihan rakyat, Djohan juga mengingatkan, sebagai peletak dasar-dasar pemerintahan yang baik, yang kuat supaya daerah ini eksis menjadi sebuah Kabupaten.Untuk menuju hal tersebut,Djohan mengaku tidak mungkin akan mampu melaksanakan tugasnya sendiri tanpa bantuan dan dukungan dari seluruh warga masyarakat KLU.

Sementara itu, Kapolres KLU AKBP Ronny Azwawie SH.SIK dalam sambutannya mengatakan, kehadirannya bersama Bupati ke daerah ini adalah untuk menjalin silaturrahmi dengan seluruh masyarakat Kayangan, khususnya warga Dusun Sidutan ini.
Dikatakan, dalam silaturrahmi kali ada beberapa hal yang ingin disampaikannya diantaranya, yang pertama sebut Rony Azwawie, adalah kehadiran dirinya selaku Kapolres KLU yang pertama di daerah Tioq Tata Tunaq ini bersama dengan 235 personil anggota Polri yang terbagi mulai dari Polsek Bayan hingga Polsek Pemenang.Mungkin dalam melaksanakan tugas ini ada beberapa kekurangan, mohon masukan dan saran serta partisipasi seluruh warga daerah ini dalam menjaga keamanan dan ketentraman.
Partisipasi seluruh warga KLU ini, menurut Kapolres yang mulai tugas di daerah Dayan Gunung sejak tanggal 6 September 2012 lalu, telah tercermin dari setiap senin pihaknya melaporkan ketingkat atas (Polda) bahwa KLU aman. ”Ini berkat partisipasi seluruh warga KLU dalam membantu menjaga keamanan dan ketertiban wilayah,”katanya.
KLU hampir tidak pernah ada unjuk rasa, ini luar biasa, ketimbang daerah lain di NTB. Kabupaten Lombok Utara memang saat ini sedang menjadi salah satu Kabupaten yang termiskin di Nusa Tenggara Barat. Tetapi kategori yang termiskin ini focus kepada kenyataan yang ada.Kalau disebut Kabupaten yang miskin, itu harus ada tolok ukurnya, yaitu pasti tingkat kriminalitas tinggi, pasti pengangguran banyak dan pasti pengemisnya juga banyak yang bergentayangan. Sementara di KLU ini berdasarkan catatan statistic dikatakan termiskin di NTB. Ternyata kriminalitasnya paling rendah, penganggurannya paling sedikit, semua bekerja, apakah di ladang, petani, nelayan atau wiraswasta dan sebagian ada yang PNS. ”Dan di KLU ini juga tidak ada pengemis, ”tandasnya.
Usai silaturrahmi di Mesjid Nurul Huda Sidutan tersebut,Bupati H.Djohan Sjamsu,SH memberikan bantuan kepada Panitia Pembangunan Mesjid, dengan didampingi Kapolres KLU AKBP Ronny Azwawie SH.SIK dan Kabag Humas Setda KLU Drs Jumarep.